Minggu, 08 April 2012

Proposal Riset: FISIOLOGI MOLTING RAJUNGAN (Portunus pelagicus) PADA MEDIA SALINITAS BERBEDA

Akbar Marzuki Tahya
akbarmarzukitahya@yahoo.co.id

PENDAHULUAN
Molting merupakan proses fisiologi yang terjadi pada krustase termasuk rajungan jenis Portunus pelagicus. Istilah molting dikenal pula dengan ganti kulit yang menjadikan bagian terluar tubuh pada rajungan dan kerabatnya menjadi sangat lunak dan berbeda dari biasanya. Proses molting ini terjadi selama hidup dengan mengakumulasi berbagai macam penunjang kebutuhan untuk berlangsungnya pergantian kulit yang sempurna.
Rajungan merupakan krustase laut yang sensitif terhadap perubahan lingkungan tempat hidupnya. Salah satu perubahan lingkungan yang sering terjadi pada media budidaya adalah salinitas. Dengan perubahan salinitas, rajungan akan mengalami tekanan fisiologis yang memaksa untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan tersebut, akibatnya pendanaan energi rajungan terbagi. Perubahan lingkungan yang terjadi secara simultan berakibat pada tingginya mortalitas dan persentase gagal molting pada rajungan.
Performa fisiologi menjadi salah satu indikator untuk memberikan informasi mengenai stres yang terjadi pada rajungan akibat perubahan salinitas. Dengan adanya penelitian ini, fisiologi perkembangan dan pertumbuhan rajungan dapat diamati dan menjadi indikasi berlangsungnya proses molting. Dengan demikian proses molting dapat diamati secara akurat melalui pendekatan fisiologi pertumbuhan kutikula baru dan menjadi acuan untuk evaluasi level optimal salinitas yang menunjang molting pada rajungan. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting untuk dilakukan.

Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respon fisiologi rajungan yang terkait dengan proses molting terhadap berbagai salinitas dan menentukan level optimal salinitas untuk aktifitas fisiologi.
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kemajuan teknologi budidaya rajungan dan menjadi acuan untuk pemeliharaan rajungan pada salinitas optimal.

Hipotesis
Salinitas berbeda akan mempengaruhi respon fisiologi molting rajungan, dan terdapat level salinitas optimal yang dapat menunjang performa fisiologis untuk berlangsungnya molting yang sempurna.

METODE PENELITIAN

Hewan uji yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah rajungan jenis Portunus pelagicus dewasa berukuran lebar karapas ± 7 cm dan bobot badan ± 60 gram. Semua rajungan yang digunakan berada pada fase intermolt. Dan untuk menghomogenkan hewan uji maka, rajungan yang digunakan berasal dari satu panti pembenihan.

Penelitian ini akan menggunakan bak beton berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 2x2x1 m, yang telah diatapi. Bagian dasar bak diberi substrat pasir pantai putih dengan pecahan karang halus setebal ±15 cm yang diupayakan menyerupai habitat alami. Bak diisi air laut setinggi 25 cm, dan dilengkapi 4 buah selang aerasi dengan bukaan udara maksimum selama proses pemeliharaan berlangsung.

Salinitas merupakan perlakuan yang diujikan pada penelitian ini. Adapun taraf salinitas yang dimaksud: (A). 24 ppt, (B). 27 ppt, (C). 30 ppt, (D). 33 ppt, (E). 36 ppt.

Parameter peubah yang diamati meliputi: konsumsi oksigen, komposisi kimia tubuh, retraksi epipodit, perkembangan kutikula baru, persentase ekdisis, pertumbuhan, mortalitas, titer ekdisteroid dalam hemolimph, dan lama waktu yang dibutuhkan untuk ekdisis sejak intermolt.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, dan secara deskriptif dengan menggunakan bantuan tabel dan grafik.

Download Sinopsis Riset