Senin, 30 Januari 2017

RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT DALAM PAKAN IKAN BANDENG



Seaweed as a source of carbohydrates in the feed of milkfish (Chanos chanos forsskal)

klik judul untuk download full paper
 
Siti Aslamyah1*, Muhammad Yusri Karim1,  Badraeni1, Akbar Marzuki Tahya1,2.


1Department of Aquaculture, Hasanuddin University, South Sulawesi, Indonesia
2Department of Aquaculture, Bogor Agricultural University, West Java, Indonesia.

Abstract
Seaweed is known to have many benefits as a source of nutrients in foods including in fish feed. Seaweed is known to influence the improvement of growth performance, nutrient absorption, the chemical composition of the body, fat metabolism and disease resistance. This study aimed to test several types of seaweed fermentation of the green and brown strains of Kappaphycus alvarezii, Gracillaria gigas, and Sargasum sp. as carbohydrates and its role in the growth, survival, digestibility of feed and chemical composition of the body of the fish juvenile.
The results showed an increase in growth, survival, level of digestibility and chemical composition of the body. The highest growth rates shown by seaweed Sargasum sp. amounting to 150.45 ± 10.06 provisional highest survival rate seen in the use of green strain K. alvarezii 66.67 ± 6.67, the level of digestibility of carbohydrates in the range of 50.22% - 57.19% and protein between 64.88% - 66.65%. The highest increase in glycogen in the liver looks at the use of green strain as much as 6.29 ± 0.89, while the muscles seen in the G. gigas group as much as 7.29 ± 2.05. These results indicate that the use of seaweed to the diet had a positive influence on fish juvenile.
Keywords: carbohydrates, growth, milkfish, seaweed, survival.

Reference: Aslamyah S, Karim MY, Badraeni, Tahya, AM. 2016. Seaweed as a source of carbohydrates in the feed of milkfish (Chanos chanos forsskal). IJ Pharmtech. 9(11): 64-67. 

Rabu, 15 Mei 2013

HABITAT DAN PENYEBARAN Portunus pelagicus



Akbar Marzuki Tahya

P. pelagicus atau yang dikenal dengan nama rajungan memiliki habitat yang agak sedikit berbeda dengan Scylla sp., (kepiting bakau). Jenis kepiting perenang ini banyak dijumpai pada perairan dengan salinitas yang lebih tinggi dibandingkan Scylla sp. meskipun pada beberapa tempat juga dapat beradaptasi untuk hidup pada daerah muara dengan adanya percampuran air tawar dan air laut. P. pelagicus sering pula beruaya mencari makan hingga kedalaman rendah sekitar 1 m dan ditemukan pula pada habitat yang lebih dalam lagi sekitar 56 m. Kepiting perenang ini memiliki kebiasaan untuk membenamkan diri (burrowing) pada dasar pasir atau lumpur dan tetap siaga untuk menangkap mangsa.
Informasi yang disampaikan Moosa (1980) spesies ini dapat hidup pada berbagai habitat seperti pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, pasir putih berlumpur dengan rumput laut di selat-selat, dipulau berkarang, dan dapat pula ditemukan di daerah bakau, di dasar tambak yang berdampingan dengan air laut. Galil (2006) memasukan ke dalam golongan spesies eurihaline karena kebutuhan hidupnya pada salinitas yang berkisar antara 30-40 ppt, dengan toleransi temperatur 15-25°C. Sementara Juliana (2003) memperoleh kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan zoea-megalopa yang baik pada suhu 28-30°C dan salinitas 29-31 ppt.  
Distribusi spesies ini tersebar di kepulauan pasifik, pesisir negara-negara Indo Pasifik Barat, Samudera Hindia, Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Filipina, Jepang, Korea, Cina), daerah Turki, Libanon, Sisliia, Syria, Siprus dan perairan Sekitar Australia.
Di Indonesia sendiri menjadi habitat yang nyaman bagi spesies ini, sehingga tidak mengherankan apabila kepiting perenang ini dapat dengan mudah dijumpai di daerah pesisir di negara kepulauan ini. Distribusi spesies komersil ini dapat diketahui dari nelayan yang sering melakukan penangkapan atau secara tidak sengaja terperangkap ke dalam jaring. Beberapa daerah potensial seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumba, Laut Jawa, Lampung, Medan, Kalimantan Barat dan Kepulauan di Maluku dan Papua telah mengenal dengan baik spesies ini.
 

Kamis, 07 Februari 2013

Latar Belakang Warna Logo Komunitas B2W Indonesia

Mengapa tidak merah, biru, atau bahkan hijau seperti warna-warna partai? Tidak, tidak. Yang pasti pemilihan kuning sebagai latar belakang warna logo TIDAK merujuk kepada partai yang berwarna sama. Lalu mengapa warna kuning?
Di awal abad 19, University of Chicago pernah membuat sebuah survey mengenai warna apa yang paling mudah dikenali dan dilihat dari jauh. Hasil survey membuktikan bahwa warna kuning merupakan warna yang paling menarik perhatian dalam kondisi cuaca apapun. Hal inilah yang mendasari seorang salesman mobil bernama John D. Hertz saat pertamakali membangun perusahaan taksinya. Perusahaan taksi bersejarah yang luas dikenal dengan Chicago Yellow Cab Company ini kemudian menjadi trend-setter penggunaan warna kuning pada taksi di seluruh dunia. Taksi berwarna kuning terbukti dapat langsung dikenali di antara lautan kendaraan berwarna lain.
Warna kuning yang pada lampu lalu lintas (traffic light) berarti agar berhati-hati malah pada awal penggunaan lampu lalu-lintas tidak dikenal dan dipakai. Penggunaan lampu lalu lintas pertama tahun 1868 di London hanya menggunakan 2 warna; merah dan hijau. Merah  berarti “berhenti” dan hijau berarti “hati-hati”. Sistem yang menggunakan warna merah, kuning dan hijau diterapkan pada manajemen lalu lintas pertama kali di Detroit, Michigan pada tahun 1920. Penambahan warna kuning untuk memperjelas kondisi di antara berhenti (merah) dan jalan (hijau), bahwa pengemudi harus hati-hati dan bersiap untuk berhenti karena lampu akan berubah menjadi merah.
Warna kuning sendiri kemudian digunakan sebagai peringatan agar berhati-hati karena bedanya yang kontras dengan merah dan hijau yang makna dan perintahnya sudah jelas, serta tak terlalu ‘provokatif’ seperti kedua warna tersebut. Hingga kini, warna kuning digunakan sebagai simbol dalam sistem peringatan.
Secara psikologis, warna kuning adalah penarik perhatian namun juga dianggap dapat menurunkan emosi negatif dan pada saat yang sama meningkatkan konsentrasi serta metabolisme.

Senin, 22 Oktober 2012

G PROTEIN COUPLED RECEPTORS

Akbar Marzuki Tahya

Keunikan dan keajaiban mekanisme tubuh mengundang rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga kita sebagai para pengagum ilmu pengetahuan merasa tertantang dan memiliki rasa ingin tahu yang begitu kuat mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dia bekerja. Mekanisme fisiologi yang terjadi dalam tubuh begitu beragam, namun teratur sesuai peranannya masing-masing untuk merespon perubahan. Dalam tubuh terdapat banyak sel-sel yang begitu cerdas sehingga dapat mengatur dirinya sendiri dan berinteraksi dengan sel yang lain. Masing-masing sel kecil ini memiliki reseptor yang memungkinkan respon terhadap faktor eksternal itu terjadi. Perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar akan segera direspon oleh karena adanya reseptor yang menerima pesan. Respon terhadap perubahan lingkungan ini sebagai mekanisme adaptasi terhadap suatu kondisi.
Para ilmuwan sejak lama mempertanyakan, bagaimana sel-sel yang kecil dapat merasakan perubahan di lingkungannya. Sel demikian unik dan menantang untuk dikaji oleh karena jumlahnya yang demikian banyak dan masing-masing mengambil peranan untuk menanggapi perubahan lingkungannya. Pertanyaan ini memang tidak sepenuhnya belum berhasil diungkap, akan tetapi para ilmuwan telah menjelaskan bahwa mekanisme ini terkait dengan kerja hormon. Selama ini diketahui bahwa hormon semacam adrenalin memiliki pengaruh yang lebih kuat untuk meningkatkan pemompaan darah dan denyut jantung. Para ilmuwan menduga bahwa pada permukaan sel terdapat beberapa jenis penerima hormon, akan tetapi belum terungkap kandungan reseptor yang sebenarnya dan bagaimana reseptor-reseptor ini bekerja.
Keingintahuan Robert Lefkowitz dan Brian Kobilka merupakan salah satu upaya untuk menjawab pertanyaan mengenai reseptor-reseptor sel ini. Lefkowitz memulai dengan menggunakan radioaktivitas pada tahun 1968, bersama timnya melakukan penelitian dengan mengekstrak reseptor dari tempat-tempatnya yang tersembunyi pada permukaan sel, dari penelitian ini dia bersama timnya memperoleh pemahaman awal mengenai mekanisme kerja reseptor. Pencapain besar terjadi selama tahun 1980an, ketika para peneliti merasa tertantang untuk mengisolasi gen yang menyandi reseptor β-adrenergic dari genome manusia. Pendekatan yang kreatif menjadi kunci sukses Lefkowitz bersama timnya menggapai apa yang dicita-citakan. Dalam proses analisis gen, para peneliti menemukan bahwa reseptor ternyata sama antara satu dengan yang lain, seperti yang terdapat dalam indera penglihatan dan memiliki perananan menangkap cahaya. Tim peneliti kemudian menyadari bahwa ternyata terdapat sejumlah keluarga reseptor yang terlihat dan berperanan juga sama. Sejumlah keluarga reseptor ini dikenal sebagai G Protein Coupled Reseptor (GPCRs).
Robert Lefkowitz, 69 tahun, merupakan dosen biomedis dan biokimia di Duke University, North Carolina. Sementara Brian Kobilka, 57 tahun, adalah dosen psikologi molekuler dan seluler di Stanford University School of Medicine di Carolina. Mereka dianggap berjasa dengan penelitian-penelitiannya terhadap pengungkapan GPCRs, yang merupakan sejumlah protein yang bisa melewati dinding sel. GPCRs terletak di lapisan lemak yang berada pada dinding sel, GPCRs bekerja mendeteksi hormon, bau, zat kimia transmiter saraf dan sinyal-sinyal lain. GPCRs kemudian menghantarkan pesan ke dalam sel dengan mengaktifkan salah satu protein G. Reseptor tersebut merupakan target dari sepertiga hingga setengah obat yang ada. Melalui penelitian GPCRs, ilmuwan mampu memahami bagaimana sistem sel bekerja dan kompleksitas jaringan sel. Sederhananya, salah satu aplikasi dari penemuan ini untuk masa depan pembuatan obat sehingga dapat mengupayakan perawatan yang lebih tepat dan efektif. Peneliti juga mengungkapkan hasil penelitiannya dalam publikasi di jurnal Nature tahun 2011 lalu, bahwa hampir setiap fungsi tubuh manusia, dari pandangan, penciuman hingga detak jantung dan komunikasi saraf, tergantung pada GPCRs.
Penemuan ini memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya. Terobosan ini memberikan pemahaman baru setelah 4 dekade, mengenai kompleksitas mekanisme misterius yang terjadi pada sel. Pertanyaan yang ada selama ini terjawab sudah, dengan kerja kreatif yang menyita waktu para tim peneliti yang terlibat. Komisi Nobel, Sven Lidin mengungkapkan bahwa dengan adanya pemahaman mengenai reseptor-reseptor ini telah memberikan kemajuan besar terhadap riset medis, oleh karena bentuk dan fungsi reseptor telah diungkap akan memberikan petunjuk untuk mendapatkan obat-obatan yang lebih baik dengan lebih sedikit efek samping. Dan atas dasar ini pula Robert Lefkowitz dan Brian Kobilka berhasil meraih nobel kimia tahun ini. Meskipun terobosan ini dinilai dalam bidang kimia, akan tetapi mempunyai implikasi yang demikian luas dalam bidang lainnya seperti kedokteran dan farmasi. Hingga tahun 2012 sudah tercatat 163 peraih nobel dalam bidang kimia, sejak penghargaan bergengsi ini pertama kali diberikan pada tahun 1901. Penerima Nobel akan dianugerahi penghargaan secara resmi setiap 10 Desember pada peringatan kematian Alfred Nobel, pencetus penghargaan bergengsi ini.