![]() |
| Akbar Marzuki Tahya |
Rabu, 15 Mei 2013
HABITAT DAN PENYEBARAN Portunus pelagicus
Selasa, 28 Februari 2012
Anatomi Kepiting
Anatomi Kepiting sudah terbentuk dengan baik untuk menunjang kegiatan biologinya. Kepiting memiliki insang, lambung, hepatopankreas, dan sistem reproduks
i.
Ada satu keunikan dari kepiting yakni memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di luar air. Menurut Prof. Yushinta Fujaya, ini disebabkan oleh adanya kemampuan insang untuk menyerap air di bawah karapas sehingga insang tetap dalam keadaan lembab meskipun berada di luar air.
Sementara kelenjar pencernaan kepiting biasa disebut hepatopankreas yang memiliki warna khas kuning. hepatopankreas terletak saling bertumpuk dengan ovarium atau telur. Menurut Prof. Yushinta Fujaya, hepatopankreas biasa membingungkan orang awan dan menganggapnya sebagai telur oleh karena letak dan warnanya.
Hepatopankreas juga berperan untuk mendeposit sejumlah glikogen dan cholesterol, mendeposit logam-logam berat dan melokalisasinya.
Selasa, 10 Januari 2012
Do You Want to Know How Long You Will Live?
It all depends on the length of the telomeres, which are described as 'acting like the plastic ends on shoelaces' to protect chromosomes from wear and tear.
Telomeres are being studied extensively - and are thought to hold the key to ageing.
Put simply, the longer your telomeres, the longer you will live - dependent, of course, on not dying accidentally, from disease or from lifestyle factors. It was known they could be shortened by life choices, including smoking and stress.
But this is the first indication that our lifespans might be predetermined from birth. In the future, tests may allow people to know their expected lifespan from a very early age - if they want to.
Professor Pat Monaghan, who led the Glasgow University study, said: ‘The results of this research show that what happens in our bodies in early life is very important.
‘It is not understood why there are variations of telomere length but if you had a choice, you would want to be born with longer telomeres.
‘If you were to test this, I don’t think anyone would want to know – it would just make you miserable. But it must be remembered that how you live has a big effect. This isn’t quite a case of nature overtaking nurture.’
The study – which used zebra finches, one of Australia’s most common bird species – is the first to measure telomere lengths at regular intervals through an entire life. With people, it is usually only the elderly who are studied because of the timescales involved.
Blood cell samples were taken from 99 finches, starting when they were 25 days old. The results exceeded even the researchers’ expectations.
The birds with the shortest telomeres did tend to die first – from as early as seven months after the start of the trial. But one bird in the group with the longest telomeres survived to almost nine years old.
Professor Monaghan said: ‘These birds were dying of natural causes. There were no predators, no diseases and no accidental deaths. This was showing their capacity for long life.’
The results hold huge implications for humans, whose telomeres work in the same way. In future, people might be tested to see how long their telomeres – and their life expectancy – could be.
Telomeres are important because they stop DNA from unravelling – but they begin shortening from the moment we are conceived. The longer they are, the better for an individual because when they get too short, they stop working.
DNA is then no longer protected and errors begin to creep in when cells divide. When this happens – usually in middle age – the skin begins to sag and the immune system becomes less efficient. Faulty cells also lead to a growing risk of conditions such as diabetes and heart disease.
The university’s institute of biodiversity, animal health and comparative medicine has published its groundbreaking research in the Proceedings of the National Academy of Sciences USA.
In the next stage of their research, the Glasgow scientists will look at what causes telomeres to shorten – including inherited and environmental factors – to make it possible to predict life expectancy more accurately.
sumber: kompas.com
Jumat, 06 Januari 2012
Ada Ikan Penipu di Laut Sulawesi

Penipu di sini perlu diklarifikasi dulu. Penipu berkaitan dengan kemampuan komuflase hewan laut. Beberapa hewan laut punya kemampuan berakting layaknya spesies lain sehingga terhindar dari predator.
Ikan penipu tersebut ditemukan oleh penyelam Godehard Kopp ketika sedang menyelam di Selat Lembeh, Sulawesi Utara. Ikan penipu tersebut diperkirakan merupakan black-marble jawfish (Stalix cf. histrio).
Kopp merekam perilaku ikan penipu tersebut. Dalam rekamannya, ikan penipu itu sedang berada di dekat Gurita Penyamar (Thaumoctopus mimicus), salah satu master komunflase alias penipu spesies lain.
Ikan penipu tampak mengikuti ke mana pun gurita pergi. Ikan itu bahkan tampak bagai tentakel gurita penyamar. Ia bergerak mengikuti ke mana pun sang gurita penyamar pergi. Alhasil, ikan penipu itu sukses mengelabuhi gurita penyamar yang tak menyadari bahwa di dekatnya ada spesies berbeda yang mungkin saja bisa dijadikan mangsa.
Hasil rekaman tersebut dikirimkan ke Luiz Rocha dan Rich Ross, biolog dari California Academy of Sciences. Hasil analisis kemudian dipublikasikan di jurnal Coral Reefs.
Rocha dan Ross terkejut dengan penemuan ini. Seperti dikutip National Geographic, Kamis (5/1/2012), Rocha mengatakan, "Kita tidak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya."
Penemuan jawfish di lautan terbuka juga tak biasa sebab biasanya ikan jenis itu mengubur diri di pasir. Rocha dan Ross juga masih bingung apakah ikan tersebut selalu melakukan komuflase yang sama ketika berada di dekat gurita.
Sejauh ini, jenis ikan masih merupakan perkiraan sebab perilakunya baru dijumpai kali ini. "Ikan yang dijumpai di Indonesia ini mungkin saja merupakan spesies baru," kata Rocha.
Black-marble jawfish merupakan spesies yang tersebar dari perairan selatan Jepang hingga Indonesia. Rocha yakin bahwa dalam cakupan wilayah yang begitu jauh, tak mungkin jawfish yang ada merupakan satu spesies.
Penemuan ini menegaskan bahwa laut Indonesia kaya akan beragam jenis spesies. Namun demikian, laut Sulawesi yang masuk dalam kawasan Segitiga Karang Dunia juga menyisakan persoalan sebab perusakan masih terus berlanjut. Banyak spesies yang ditemukan, tetapi banyak juga yang hilang tanpa diketahui.
lihat : video
sumber: kompas
Kamis, 05 Januari 2012
contoh surat lamaran

Beberapa waktu lalu penulis juga membuat surat lamaran, Oleh karena itu sekedar berbagi pengalaman agar memudahkan terdapat beberapa tips untuk menulis surat lamaran yang baik.
Berikut beberapa tips membuat surat lamaran:
Agar tidak kebingungan lagi, sebagai contoh untuk membuat surat lamaran yang lebih jelas langsung saja mendownload format surat lamaran berikut. Semoga Bermanfaat.
Sabtu, 17 Desember 2011
Hari Nusantara, Indonesia Siap Jadi Negara Maritim
Oleh Olivia Lewi Pramesti
Dalam peringatan Hari Nusantara ke-12 yang jatuh pada Selasa (13/12), Indonesia siap menjadi negara maritim. Untuk memenuhi komitmen tersebut, menjaga keuntuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia mutlak diperlukan.
Hal ini ditegaskan oleh Menteri Pertahanan Indonesia, Purnomo Yusgiantoro, dalam pidatonya yang dibacakan oleh Irup Kolonel Laut Aloysius Pramono dalam peringatan Hari Nusantara ke-12 hari ini di Stadion Mandala Krida Yogyakarta.
“Pada konsep wawasan nusantara meneguhkan tekad bahwa Republik Indonesia adalah negara kesatuan yang tidak terpisahkan secara geografis, yaitu terdiri dari ribuan pulau-pulau besar dan kecil,” katanya.
Sebagai negara kepulauan, perairan laut Indonesia yang terletak di antara beribu-ribu pulau dinyatakan sebagai laut Nusantara. Dan demikian merupakan wilayah kedaulatan mutlak NKRI.
"Kita harus mengunakan budaya bahari dan mengoptimalkan perairan laut kita sebagai penyatu ekonomi dan sumber kekayaan alam yang berlimpah,"paparnya.
sumber: ngi.
Jumat, 16 Desember 2011
Apa kabar Sang Naga penghuni sungai Kapuas Hulu?

Jakarta (29/10)-Pernah jadi ikan asin yang harganya Rp.1000/kg, namun karena dianggap pembawa rejeki dan datang dari surga, Siluk atau Arowana,-terutama yang berwarna merah diburu banyak orang. Pembeli bahkan rela mengeluarkan uang jutaan rupiah.
Sebelum diburu, Ikan yang berbadan pipih, bersisik tebal, berukuran besar, serta ‘berkumis dan berjanggut’ ini tidak begitu disukai para nelayan. Ikan yang di Kalimantan disebut Ikan Naga dan di perairan Riau disebut Ikan Surga ini dianggap buas. Selain suka memakan ikan kecil bahkan anaknya sendiri, Siluk juga memakan kodok. Namun dengan munculnya mitos yang mempercayai bahwa Ikan arowana mampu membawa keberuntungan dan ketenangan bagi pemiliknya, ikan ini kini justru menjadi primadona. Perburuan pun marak di lakukan nelayan yang dimodali para penadah. Untuk Ikan Siluk yang panjangnya sekitar 40 cm bisa dihargai sampai Rp. 2,5 juta.
Di alam bebas, Ikan Siluk Merah merupakan penghuni Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Ironisnya, di habitat aslinya ini, populasi Siluk menurun pesat akibat penangkapan liar serta daya biaknya yang rendah. Hal ini juga yang mendorong siluk masuk dalam daftar merah Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora-CITES, yang dikategorikan genting. Artinya, siluk termasuk satwa yang jumlahnya sudah sangat sedikit dan terancam punah.
Kondisi ini juga diperkuat oleh kesaksian Juniardi, Kepala Desa Empangau, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ia menyatakan, semenjak 30 tahun terakhir, sudah hampir tidak pernah ditemukan siluk di alam, hanya pada tahun 2009 pernah ditemukan sekali di Desa Semalah.
Pemburuan siluk telah menjadi pisau bermata ganda. Satu sisi dianggap mampu menghidupi warga setempat, namun di sisi lain jelas membuat siluk semakin langka. Untuk menjaga kepentingan masyarakat serta nasib siluk, maka masyarakat di sekitar Danau Merebung membuat peraturan dan menjaga bersama. Danau Merebung adalah salah satu dari 7 Danau di Dusun Meliau, kabupaten Kapuas Hulu yang dilindungi oleh masyarakat adat.
Salah satu upaya perlindungan secara adat yang dilakukan adalah dengan menetapkan zona ekonomi dan zona perlindungan yang membatasi masyarakat untuk berburu. Selain itu juga pembatasan ukuran ikan yang ditangkap. Secara mandiri dan dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat melaksanakan aturan adat tersebut sekaligus mengawasi dan memberi sanksi bagi mereka yang melanggar.
Upaya perlindungan yang dilakukan masyarakat selama ini membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti, populasi ikan langka ini masih terjaga dengan baik di alam. Hal ini terbukti oleh ditemukannya induk arwana di Danau Merabung yang tidak sengaja tertangkap pancing oleh pemancing professional dari Amerika. Ukuran dan beratnya pun sungguh menakjubkan. Panjangnya 140 cm dan beratnya mencapai 6 kg. Begitu tertangkap, ikan ini lalu dibebaskan dari mata kail dan langsung dilepaskan ke Danau Merebung oleh seorang warga Dusun Meliau yang saat itu mendampingi Robert Clarke, sang pemancing asal negeri Paman Sam tersebut.
“Secara tradisional, danau Merabung dan 6 danau lainnya di dusun Meliau memang dilindungi oleh masyarakat. Namun dengan bukti penemuan ini, patut didorong agar danau-danau di Meliau perlu mendapat proteksi yang lebih formal dengan upaya pengusulan ke DKP sehingga secara resmi mendapat SK perlindungan dari pemerintah daerah,” tegas Albertus Tjiu, Project Leader WWF Kapuas Hulu.
Sejak hampir 15 tahun, WWF-Indonesia telah menggiatkan beragam upaya pendampingan masyarakat di Kapuas Hulu. Upaya perlindungan Siluk di Dusun Meliau pun juga menjadi salah satu prioritas kerja WWF di Kapuas Hulu. WWF memulai inisiatif bersama perlindungan siluk pada tahun 1997 yang saat itu dipusatkan di Danau Empangau, dusun Meliau.
Sejak dulu, Danau Empangau telah menjadi habitat Ikan siluk. Namun akibat perburuan, keberadaan ikan Siluk terancam punah pada tahun 1995-1996. Melalui upaya restocking (pelepasliaran), pembenahan pada organisasi nelayan, pemberlakukan zona danau lindung, perumusan bersama mengenai hukum adat hingga pengawasan oleh masyarakat setempat, akhirnya program pendampingan masyarakat ini pun berhasil menunjukkan dampak positifnya bagi keberlanjutan Siluk.
Sejak tahun 2000, upaya pelestarian siluk melalui restocking telah melepas 23 ekor indukan di Danau Empangau yang kini telah menghasilkan 192 anakan ikan senilai Rp. 840 juta. Ikan yang dilepas di Danau Empangau ini bersumber dari swadaya masyarakat,bantuan pemerintah daerah dan LSM lainnya. Pendekatan serupa juga akan diduplikasi di Danau Merabung dan Danau lainnya di Kapuas Hulu.
Namun sejumlah upaya perlindungan ini masih jauh dari cukup mengingat Perdagangan dan peredaran ikan arwana alam masih belum diatur dalam Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Belum lagi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit besar-besaran yang tentu saja berdampak pada Danau di sekitarnya. Berbagai hal ini jika tidak segera menjadi perhatian, maka upaya perlindungan kawasan dan spesies yang telah dilakukan selama ini akan sia-sia belaka.
sumber: wwf-Indonesia
Minggu, 11 Desember 2011
2500 koloni karang lunak ditanam di Pulau Badul

Sesuai judulnya, kegiatan rehabiltasi ini merupakan rangkaian dari 5 kegiatan sejenis sebelumnya yang telah digiatkan WWF di KKLD Pulau Badul sejak tahun 2007. Hingga kini, 5.550 koloni karang telah ditanam di Pulau tersebut.
Build Your Own Reef menerapkan metoda transplantasi karang sebagai upaya untuk memulihkan ekosistem terumbu karang di KKLD Pulau Badul. Uniknya, kegiatan ini juga melibatkan masyarakat lokal yang tergabung dalam kelompok Paniis Lestari (PANLES) Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kelompok inilah yang secara aktif melakukan kegiatan rehabilitasi terumbu karang di Pulau tersebut. Bahkan, bibit karang yang digunakan dalam kegiatan ini pun hasil budidaya kelompok tersebut.
Build Your Own Reef VI telah berhasil menanam 2.500 koloni karang lunak dengan 100 unit rak yang terbuat dari beton yang diletakkan pada lokasi terumbu karang yang sudah rusak dan ditempatkan pada media substrat pada kedalaman 6 – 9 meter.
Peserta juga diajak melihat dari dekat usaha budidaya karang lunak yang dilakukan oleh kelompok Paniis Lestari sebagai contoh nyata kesadaran masyarakat lokal melestarikan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya.
“Selain mempercepat rehabilitasi terumbu karang di sekitarnya, Build Your Own Reef juga diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat lokal melalui penyediaan bibit karang hasil budidaya, pembuatan rak beton, media substrat, pemasangan rak beton, hingga penanaman karang,” jelas Andre Crespo, Coastal and Ecotourism Officer WWF-Indonesia kantor Banten.
Selama enam bulan pasca penanaman, tim WWF dan kelompok Paniis Lestari rutin melakukan monitoring setiap bulannya untuk memantau survival rate dan pertumbuhan karang, habitat ikan di sekitar lokasi penanaman, kondisi perairan, serta melalukan tambal sulam jika diperlukan. Tambal sulam atau penanaman kembali dilakukan jika ditemukan koloni karang yang mati pada media substrat.
Satu bulan pertama adalah fase yang paling rentan. Setelah itu, koloni karang mulai tumbuh dan berkembang. Pada umumnya, selama 3 bulan, pertumbuhan karang bisa mencapai 15 cm.
Enam bulan setelah penanaman, tim dari PT. Danareksa pun rencananya akan turut serta melakukan aktivitas monitoring bersama penyelam dari WWF dan kelompok masyarakat setempat.
sumber: wwf-indonesia.
Rabu, 23 November 2011
AL IMAM AS SYAHID HASSAN AL BANNA PENGASAS IKHWANUL MUSLIMIN
Jatuhnya pemerintahan Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924 merupakan satu tamparan hebat terhadap setiap individu Muslim yang cinta kepada agamaNya. Sejak dari saat itu, Islam telah diinjak-injak dan dihina serendah-rendahnya. Dunia Islam telah dibahagi-bahagikan sesama kuffar la’natullah sebagaimana makanan dibahagi-bahagikan, bertepatan dengan sabda Rasulullah SAW bahawa umat Islam akhir zaman seumpama makanan yang dikerumuni oleh musuh-musuh. Muslim yang berjuang di bawah naungan jihad telah diperangi habis-habisan, sehingga umat Islam yang tinggal hanyalah Muslim yang berkulitkan Islam. Pemikiran dan budaya Barat diagung-agungkan. Al-Qur’an dan as-Sunnah dilekeh-lekehkan. Pemerintahan negara-negara Islam pula diwariskan oleh penjajah kuffar kepada anak-anak didik mereka yang telah kosong roh Islamnya dan boleh diharap untuk meneruskan dasar-dasar penjajah. Hasilnya, tiada satu inci muka bumi Allah SWT pun sekarang ini yang terlaksana di dalamnya syari’at Allah SWT yang Maha Sempurna, yang tidak perlu diragukan lagi sama ada sesuai atau tidak dengan keadaan semasa.Namun Allah SWT tetap menepati janjiNya yang Maha Benar. Allah SWT telah menjanjikan menerusi lidah RasulNya, akan muncul setiap 100 tahun seorang Mujaddid yang akan menghidupkan kembali ajaranNya dan menyalakan kembali api perjuangan para Nabi dan Rasul serta para Sahabat. Umat Islam tidak perlu menunggu lama untuk menyaksikan kebangkitan para pemuda-pemudi Islam yang menggelarkan diri mereka Ikhwanul Muslimin, dipimpin oleh al-Imam as-Syahid Hassan al-Banna (masyhur dengan susunan Ma’thurat yang disusun oleh beliau) pada tahun 1928 di Mesir. Al-Banna telah menyediakan satu asas Gerakan Islam (Harakah Islamiyyah) yang kukuh berpandukan kepada sirah perjuangan Rasulullah SAW, yang kini menjadi contoh kepada Gerakan Islam hampir di 70 negara di seluruh dunia pada hari ini. Meskipun umat Islam hari ini dipisah-pisahkan oleh sempadan negara akibat daripada semangat nasionalisme yang ditiup-tiupkan oleh penjajah kuffar, namun Gerakan Islam tetap mara dan utuh di setiap negara Islam dalam mendepani cabaran dan tekanan pemerintah dari segenap sudut. Hanya nama yang memisahkan antara satu Gerakan Islam dengan Gerakan Islam yang lain.
Jumat, 23 April 2010
Gaya Manajemen Nan Elegan dari Apple

iMac, iPod, iTunes, dan iPhone sungguh merupakan deretan karya
teknologi yang amat estetik. Deretan produk elegan dengan sentuhan
seni yang mengesankan. Deretan produk yang barangkali ingin
menggapai dengan sepenuh hati apa itu makna keindahan yang
sempurna. Dan melalui deretan produk inilah, Apple kemudian
menyeruak menjadi pendekar paling tangguh dalam era konvergensi
digital masa depan.
Dalam lima tahun terakhir, Apple memang terus bergerak menggapai
langit prestasi. Setelah produk iPod-nya melambung dan membuat
para petinggi Sony kelabakan, kini Apple hendak menggoyang
kedigdayaan Nokia dengan produknya yang memukau, iPhone.
Sementara jutaan orang setiap hari mengunjungi kios musiknya via
iTunes. Pendeknya, menyaksikan kisah Apple ibarat menikmati jus
apel yang segar dan menyehatkan. Lalu, apa sesungguhnya faktor
kunci dibalik menjulangnya kerajaan Apple?
Penyelidikan terhadap proses bisnis yang dilakoni oleh Apple
membawa kita pada tiga elemen kunci yang mungkin bisa
menjelaskan kejayaan perusahaan dari Cupertino, California ini.
Elemen yang pertama dan mungkin paling vital adalah eksistensi sang
CEO dan juga pendiri, Steve Jobs. Tak pelak, pria yang suka
berpenamilan casual ini merupakan figur kunci dibalik ketangguhan
Apple. Melalui visinya yang tajam dan citarasa yang kuat akan produkproduk
teknologi berestetika, Steve telah menjelmakan dirinya sebagai
jangkar yang amat menentukan ke arah mana bahtera Apple hendak
dilayarkan.
Pertautan Steve Jobs dengan Apple sendiri merupakan sebuah kisah
yang panjang nan berliku. Pria yang drop out saat kuliah di semester
pertama ini mendirikan perusahaan Apple ketika usianya baru masuk
22 tahun (!) dari sebuah garasi mobil di rumah kontrakan. Di tahuntahun
awal berdirinya pada pertengahan tahun 70-an, Apple sempat
mengguncang dunia dengan mengeluarkan produk personal computer
pertama di dunia. Namun seiring berjalannya waktu, nasib Steve Jobs
sendiri justru berakhir tragis : pada tahun 1986 ia justru dipecat dari
Apple. Sejak ia pergi, Apple limbung dan didera kegagalan demi
kegagalan.
Setelah sempat berpetualang dengan mendirikan perusahaan Pixar
(yang memproduksi film animasi sukses seperti Toy Story, Finding
Nemo dan Cars), Steve Jobs melakukan langkah comeback : kembali
direkrut untuk mengomandani Apple. Saat itu, tahun 1997, Apple
tengah berada pada titik nadir, dan banyak orang meramalkan
perusahaan ini sebentar lagi akan masuk liang kubur. Senjakala
kematian mengintai dan mereka tak yakin Steve Jobs mampu
menjelmakan dirinya menjadi sang dewa penyelamat.
Toh sejarah kemudian menjadi saksi : betapa Steve Jobs telah
melakukan proses comeback yang spektakuler. Steve Jobs sendiri
sejatinya merupakan figur yang unik. Brilian, memiliki kepekaan seni
yang mumpuni (ia pernah belajar kaligrafi), namun sekaligus memiliki
sense of strong leadership. Pada sisi lain, Steve adalah pribadi yang
selalu memburu titik kesempurnaan – baik pada aspek desain ataupun
dalam proses manufakturing beragam lini produknya. Begitu ia yakin
dengan visi desain produknya, maka ia akan bekerja mati-matian
bersama para engineernya untuk memastikan agar desain itu benarbenar
dapat diproduksi dengan penuh kesempurnaan. Kisah
penciptaan iPod dan iPhone barangkali tak akan pernah terjadi tanpa
sikap perfeksionis dan sekaligus proses kepemimpinan yang kuat dari
Steve Jobs.
Elemen kedua yang menjadi penentu keberhasilan Apple adalah ini :
sinergi yang sempurna antara beragam tim – baik tim desain, tim
software, dan tim hardware. Semua melakukan kolaborasi secara
paralel dan simultan. Proses penciptaan produk di Apple tidak
dilakukan secara setahap demi setahap, dimana setelah desain selesai
lalu diserahkan ke bagian software, lalu diteruskan lagi ke bagian
hardware. Sebaliknya, dalam prosesnya semua aspek ini dikerjakan
bersama-sama secara simultan. “Essentially it means that products
don’t pass from team to team. It’s simultaneous and organic. Products
get worked on in parallel by all departments at once — design,
hardware, software — in endless rounds of interdisciplinary design
reviews,”demikian tulis majalah Time dalam salah satu liputannya
yang memikat tentang Apple.
Elemen yang terakhir mungkin lebih jarang diketahui orang. Elemen
ini adalah hadirnya sang jenius lain bernama Jonathan Ive yang
menjabat sebagai Chief Design Apple. Jonathan Ive adalah seorang
desainer produk brilian yang telah memiliki peran amat sentral dalam
sejarah kelahiran produk-produk legendaris Apple. Ive-lah yang
menjadi otak dibalik lahirnya produk iMac, iPod dan iPhone. Dengan
kata lain, sosok inilah yang dengan jitu menerjemahkan visi Steve
Jobs menjadi kenyataan melalui rangkaian produk yang elegan dan
penuh nuansa keindahan.
Demikianlah tiga elemen kunci yang kira-kira bisa menjelaskan
tentang melambungnya prestasi Apple. Jika kita telisik, ketiga elemen
ini semuanya bermuara pada people management : elemen yang
pertama tentang leadership yang kuat dan visioner, yang kedua
tentang kekuatan sinergi, dan yang ketiga tentang pengembangan
kompetensi dan keahlian.
Rangkaian produk Apple selama ini memang selalu menebarkan
pesona yang menggetarkan. Namun dibalik itu semua, mereka juga
telah memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana
menjalankan proses people management secara elegan.
Oleh : Yodhia Antariksa, Msc in HR dalam Managing People Strategy
