Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2017

KANDUNGAN NUTRIEN TUBUH DAN PERTUMBUHAN SEBAGAI RESPON FISIOLOGIS KEPITING BAKAU Scylla olivacea

Klik judul untuk download paper

Referensi: Karim MY, Azis HY, Muslimin, Tahya AM. 2016. Nutrient content of body and growth as physiological responses of mud crab Scylla olivacea reared male monosex in mangrove. IJ Pharmtech Research. 9(6): 336-338.
  
Sistem budidaya intensif yang banyak diterapkan oleh petani tambak terutama bagi yang memiliki modal besar dianggap sangat tidak ramah lingkungan. Seringkali sistem budidaya tersebut sangat tidak mempertimbangkan aspek lingkungan bahkan hutan mangrove sebagai pagar hijau dikoversi menjadi area budidaya yang akhirnya berimbas pada penurunan kualitas lingkungan dan terancamnya berbagai jenis fauna penghuni mangrove. Oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan mengenai fungsi mangrove secara rasional dan berwawasan lingkungan dengan menerapkan suatu sistem yang dapat menjamin kedua kepentingan tersebut, salah satunya adalah silvofishery (tumpang sari).

Sistem budidaya ramah lingkungan Sylvofishery saat ini mulai banyak diterapkan. Pemanfaatan ekosistem mangrove sebagi area budidaya memberi banyak keuntungan karena secara alami ekosistem mangrove sangat kaya dengan nutrien dan pakan alami bagi organisme budidaya. Akar mangrove yang secara alami menyaring air di area budidaya menjadikan kualitas air tetap terjaga pada kondisi optimum. Hampir semua jenis biota ekonomis dapat dibudidayakan dengan sistem sylvofishery. Salah satu organisme budidaya yang banyak dibudidayakan pada ekosistem mangrove adalah kepiting bakau (Scylla olivacea) dengan sistem usaha penggemukan.

Penggemukan kepiting bakau merupakan suatu usaha budidaya untuk menambah bobot kepiting yang semula masih kurus menjadi kepiting yang gemuk. Usaha penggemukan kepiting potensial untuk dikembangkan karena hanya memerlukan modal kecil, waktu pemeliharaan singkat, dan teknologi sederhana. Upaya produksi kepiting bakau melalui kegiatan penggemukan telah dilakukan di beberapa wilayah antara lain Trino dan Rodriguez (2001), Begum et al. (2009), Duraisamy et al (2009), Shantanakumar et al. (2010). Namun demikian, produksi yang dihasilkan belum maksimal terutama pada aspek pertumbuhan dan sintasan kepiting karena berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan tersebut, diantaranya metode budidaya yang digunakan. Dengan kata lain kegiatan budidaya harus memperhatikan behavior dari kepiting yakni salah satunya sifat kanibalisme. Oleh karena kuatnya saling memangsa maka pemeliharaannya memerlukan strategi yang tepat.

Strategi yang dapat ditempuh untuk mengurangi terjadinya pemangsaan pada penggemukan kepiting adalah penyediaan tempat berlindung, memisahkan antara kepiting jantan dan betina, dan menentukan padat penebaran yang tepat. Shakir dkk. (2010) kepadatan penebaran merupakan salah satu faktor teknis yang secara langsung mempengaruhi sintasan, pertumbuhan, tingkah laku, dan produksi. Hasil penelitian Bolasina dkk. (2006) menemukan bahwa kepadatan penebaran sangat berpengaruh pada Javanese flounder dan menyebabkan hirarki sosial pada kepadatan tinggi yang selanjutnya menyebabkan pertumbuhan yang rendah. Selanjutnya Dong dkk. (2010) dan Liang dkk. (2010) mengemukakan bahwa peningkatan kepadatan secara nyata menghambat pertumbuhan invertebrata. Menurut Pei dkk. (2012) stres kepadatan dapat menstimulasi sistem neuroendokrin individu subdominan, mempercepat konsumsi energi dan akhirnya memainkan peranan terhadap perubahan kandungan nutrien atau komposisi biokimia individu. Pada kondisi stres kepiting akan menggunakan sejumlah nutrien dari jaringan sehingga kandungan nutrien menurun.

Oleh karena itu, penelitian penting dilakukan untuk mengetahui komposisi kimia tubuh kepiting yang nantinya akan menjadi dasar informasi dalam menentukan tingkat kepadatan yang baik dalam usaha penggemukan kepiting dengan sistem monosex jantan di area mangrove.





 


Senin, 30 Januari 2017

RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT DALAM PAKAN IKAN BANDENG



Seaweed as a source of carbohydrates in the feed of milkfish (Chanos chanos forsskal)

klik judul untuk download full paper
 
Siti Aslamyah1*, Muhammad Yusri Karim1,  Badraeni1, Akbar Marzuki Tahya1,2.


1Department of Aquaculture, Hasanuddin University, South Sulawesi, Indonesia
2Department of Aquaculture, Bogor Agricultural University, West Java, Indonesia.

Abstract
Seaweed is known to have many benefits as a source of nutrients in foods including in fish feed. Seaweed is known to influence the improvement of growth performance, nutrient absorption, the chemical composition of the body, fat metabolism and disease resistance. This study aimed to test several types of seaweed fermentation of the green and brown strains of Kappaphycus alvarezii, Gracillaria gigas, and Sargasum sp. as carbohydrates and its role in the growth, survival, digestibility of feed and chemical composition of the body of the fish juvenile.
The results showed an increase in growth, survival, level of digestibility and chemical composition of the body. The highest growth rates shown by seaweed Sargasum sp. amounting to 150.45 ± 10.06 provisional highest survival rate seen in the use of green strain K. alvarezii 66.67 ± 6.67, the level of digestibility of carbohydrates in the range of 50.22% - 57.19% and protein between 64.88% - 66.65%. The highest increase in glycogen in the liver looks at the use of green strain as much as 6.29 ± 0.89, while the muscles seen in the G. gigas group as much as 7.29 ± 2.05. These results indicate that the use of seaweed to the diet had a positive influence on fish juvenile.
Keywords: carbohydrates, growth, milkfish, seaweed, survival.

Reference: Aslamyah S, Karim MY, Badraeni, Tahya, AM. 2016. Seaweed as a source of carbohydrates in the feed of milkfish (Chanos chanos forsskal). IJ Pharmtech. 9(11): 64-67. 

Rabu, 15 Mei 2013

HABITAT DAN PENYEBARAN Portunus pelagicus



Akbar Marzuki Tahya

P. pelagicus atau yang dikenal dengan nama rajungan memiliki habitat yang agak sedikit berbeda dengan Scylla sp., (kepiting bakau). Jenis kepiting perenang ini banyak dijumpai pada perairan dengan salinitas yang lebih tinggi dibandingkan Scylla sp. meskipun pada beberapa tempat juga dapat beradaptasi untuk hidup pada daerah muara dengan adanya percampuran air tawar dan air laut. P. pelagicus sering pula beruaya mencari makan hingga kedalaman rendah sekitar 1 m dan ditemukan pula pada habitat yang lebih dalam lagi sekitar 56 m. Kepiting perenang ini memiliki kebiasaan untuk membenamkan diri (burrowing) pada dasar pasir atau lumpur dan tetap siaga untuk menangkap mangsa.
Informasi yang disampaikan Moosa (1980) spesies ini dapat hidup pada berbagai habitat seperti pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, pasir putih berlumpur dengan rumput laut di selat-selat, dipulau berkarang, dan dapat pula ditemukan di daerah bakau, di dasar tambak yang berdampingan dengan air laut. Galil (2006) memasukan ke dalam golongan spesies eurihaline karena kebutuhan hidupnya pada salinitas yang berkisar antara 30-40 ppt, dengan toleransi temperatur 15-25°C. Sementara Juliana (2003) memperoleh kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan zoea-megalopa yang baik pada suhu 28-30°C dan salinitas 29-31 ppt.  
Distribusi spesies ini tersebar di kepulauan pasifik, pesisir negara-negara Indo Pasifik Barat, Samudera Hindia, Asia Tenggara (Indonesia, Singapura, Filipina, Jepang, Korea, Cina), daerah Turki, Libanon, Sisliia, Syria, Siprus dan perairan Sekitar Australia.
Di Indonesia sendiri menjadi habitat yang nyaman bagi spesies ini, sehingga tidak mengherankan apabila kepiting perenang ini dapat dengan mudah dijumpai di daerah pesisir di negara kepulauan ini. Distribusi spesies komersil ini dapat diketahui dari nelayan yang sering melakukan penangkapan atau secara tidak sengaja terperangkap ke dalam jaring. Beberapa daerah potensial seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumba, Laut Jawa, Lampung, Medan, Kalimantan Barat dan Kepulauan di Maluku dan Papua telah mengenal dengan baik spesies ini.