Minggu, 01 Januari 2012

Pertemuan 4: Komponen Gizi dan Pengakayaan

Pengkayaan atau yang sering kita kenal dengan istilah enrichment adalah penambahan bahan tertentu sesuai kebutuhan kultivan dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pakan.

Pada dasarnya kandungan nutrisi pada pakan alami telah ada dan memadai, namun terdapat kandungan tertentu yang berdasarkan hasil penelitian penting untuk diadakan dalam rangka menunjang kegiatan pembenihan atau budidaya. Oleh karenanya pengkayaan pada pakan dianggap penting untuk di lakukan.


klik untuk mendownload bahan kuliah

Pertemuan 3: Kultur Zooplankton


Penetasan Kista Artemia
  • Dekapsulasi: merupakan proses untuk menghilangkan lapisan terluar kista. Bertujuan untuk mempermudah penetasan telur/kista.
  • Menimbang kista sesuai kebutuhan
  • Merendam dengan air tawar selama 15 menit sambil terus diaduk.
  • Menambahkan klorin hingga kelihatan berwarna orange.
  • Kemudian melakukan pembilasan untuk menghilangkan bau klorin.

Kultur Brachionus plicatilis

  • Mempersiapkan kultur chorella atau Tetraselmis, Dunaliella, Isochrysis, Pavlova, skala besar. 10-20 juta sel/cc
  • Setelah kultur alga siap, dimasukkan branchionus 10-15 ind/ml
  • Pemanenan dapat dilakukan setelah 5 hari penebaran brancionus menggunakan net plankton.

Klik untuk mendownload bahan kuliah.

Pertemuan 2: Kultur Fitoplankton


Pola pertumbuhan pada fitoplankton
  • Fase Induksi atau Awal: Ukuran sel meningkat namun kepadatan belum bertambah; kultur mulai menyerap nutrien yang terdapat pada medium kultur
  • Fase Pertumbuhan Eksponensial: Sel bereproduksi dengan cepat, dengan pertumbuhan populasi skala eksponensial
  • Fase Penurunan Pertumbuhan: Laju pertumbuhan populasi kultur menurun
  • Fase Statis: Jumlah/ kepadatan populasi kultur stabil; Reproduksi seimbang dengan kematian
  • Fase Kematian: Kepadatan sel menurun; Laju kematian sel melebihi laju pertumbuhan sel

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum mengkultur mikro-alga

  • Mengetahui laju pertumbuhan species mikroalga yang akan dukultur di laboratorium
  • Kebutuhan mikroalga pada setiap fase siklus hidup
  • Menjaga inokulan/bibit murni dan mengetahui jumlah alga yang dibutuhkan
  • Mempersiapkan produksi ekstra untuk mengantisipasi jika ada kultur yang gagal
  • Stok kultur harus steril (bacteria free)
  • Tidak ada kontaminasi dari spesies mikroalga lain, jamur, protozoa
  • Menjaga kultur tetap pada fase eksponensial

klik untuk mendownload materi

Pertemuan 1: Fito dan Zooplankton


Pakan Alami merupakan pakan yang tersedia di alam secara alami dan ditemukan dengan berbagai jenis baik fitoplankton maupun zooplankton.
Adapun jenis fitoplankton yang biasanya dikenal pada akuakultur di antaranya:
  • Tetraselmis sp.
  • Skeletoneme
  • Spirulina sp.
  • Chlorella sp.

Sementara dari jenis zooplankton antara lain:

  • Infusoria sp.
  • Brachionus plicatilis
  • Daphnia sp.
  • Moina sp.
  • Artemia salina

Penggunaan pakan alami menanjurkan teknisi untuk memahami dan mempelajarinya berdasarkan spesies dan kebutuhan kultivan yang ingin dipelihara.

klik untuk download bahan kuliah


Rabu, 28 Desember 2011

Morfologi, Kandungan Klorofil a, Pertumbuhan, Produksi, dan Kandungan Karaginan Rumput Laut


AKMAL. Morfologi, Kandungan Klorofil a, Pertumbuhan, Produksi, dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Dibudidayakan pada Kedalaman Berbeda (dibimbing oleh Rajuddin Syamsuddin dan Dody Dh. Trijuno).

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perlakuan kedalaman budidaya yang berbeda terhadap morfologi, kandungan klorofil a, laju pertumbuhan harian, produksi, dan kandungan karaginan rumput laut K. alvarezii.

Penelitian ini terdiri atas 5 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri 3 ulangan sehingga ada 15 satuan percobaan. Rumput laut digantung metode vertikal secara acak pada kedalaman budidaya berbeda, yaitu 20 cm; 100 cm; 200 cm; 300 cm dan 400 cm. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam yang dilakukan pada taraf 95%.

Hasil penelitian menunjukkan kedalaman budidaya tidak berbeda nyata terhadap diameter, panjang tallus, dan kandungan klorofil a. Diameter tallus relatif tinggi diperoleh pada kedalaman 100 cm (5,23 mm) dan panjang tallus diperoleh 20 cm (10,90 cm), serta diameter dan panjang terendah 400 cm (masing-masing 4,28 mm dan 5,68 cm). Pada kedalaman 400 cm memperlihatkan warna relatif coklat gelap dibanding kedalaman budidaya lainnya. Kandungan klorofil a relatif tinggi pada kedalaman 100 cm (0,013 mg/g-1) dan terendah 20 cm (0,006 mg/g-1). Kedalaman budidaya berbeda sangat nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian, produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. Nilai tertinggi laju pertumbuhan bobot harian, produksi dan kandungan karaginan pada kedalaman 20 cm (masing-masing 4,522%/hari-1, 445.55 ton/ha-1 tahun-1 dan 56,31%) dan terendah kedalaman 400 cm (masing-masing 2,191%/hari-1, 145.82 ton/ha-1 tahun-1 dan 17,10%). Kecepatan arus yang optimal, konsentrasi CO2 bebas, konsentrasi nitrat dan ortofosfat yang tinggi merupakan faktor penyebab laju pertumbuhan bobot harian, produksi dan kandungan karaginan tertinggi diperoleh pada kedalaman 20 cm.

Kata Kunci : Karaginan Klorofil a, Morfologi, Pertumbuhan, Produksi, Rumput Laut.

Jika ingin menggunakan sebagai pustaka:

Akmal. 2011. Morfologi, Kandungan Klorofil a, Pertumbuhan, Produksi, dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Dibudidayakan pada Kedalaman Berbeda. [Tesis]. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.