Jumat, 03 Desember 2010

PRINSIP PENCERNAAN

Akbar Marzuki Tahya

Pencernaan makanan merupakan proses penyederhanaan makanan yang melalui proses fisik dan kimiawi dengan hasil akhir berupa material sederhana yang memudahkan penyerapan untuk dimanfaatkan dalam tubuh. Distribusi makanan dalam keadaan sederhana ini ditransportasikan dengan adanya bantuan sistem peredaran darah. Montgomery, et al (1993) mendefinisikan pencernaan sebagai proses untuk memecahkan bahan makanan menjadi komponen lebih sederhana, dalam proses ini mengikutsertakan katalisator biologik yang disebut enzim.

Awal pencernaan makanan secara fisik bermula dibagian rongga mulut. Makanan yang masih berbentuk kompleks ini dipotong-potong menjadi serpihan kecil makanan untuk memudahkan proses pencernaan selanjutnya. Pada segmen lambung terjadi kontraksi yang mengakibatkan terjadinya pencernaan fisik lanjutan. Pencernaan pada segmen ini berlangsung efektif oleh karena adanya proses pencernaan kimiawi yang dihasilkan dari kelenjar lambung, cairan pencernaan yang disekresi ini menandakan dimulainya pencernaan secara kimiawi. Proses pencernaan kemudian berlanjut ke segmen usus yang tidak jauh berbeda dengan proses pada segmen lambung, pada segmen ini juga terjadi secara fisik melalui kontraksi otot dan secara kimiawi dengan adanya sekresi cairan pencernaan. Namun proses pencernaan lanjutan ini berlangsung lebih sempurna, dan cairan pencernaan yang dihasilkan berasal dari dinding usus, hati dan pankreas.

Hasil akhir dari proses fisik dan kimiawi ini menghasilkan komponen sederhana yang mudah diserap oleh dinding usus. Montgomery, et al (1993) menambahkan bahwa hasil pencernaan ini kemudian masuk ke dalam pembuluh darah melalui absorbsi selektif.

Sementara komponen makanan yang tidak tercerna disalurkan menjadi buangan dalam bentuk feses.

METABOLISME

oleh Akbar Marzuki Tahya

Metabolisme merupakan proses fisiologi yang mengakibatkan makhluk hidup dapat mempertahankan diri untuk tetap menjalani aktivitas biologis. Proses ini melibatkan dua proses penting yakni anabolisme dan katabolisme. Proses yang terjadi pada organisme dan sel ini merupakan proses biokimiawi dengan adanya modifikasi senyawa kimia. Dalam proses anabolisme terjadi sintesis senyawa sederhana menjadi lebih kompleks dan membutuhkan energi, sementara pada katabolisme molekul organik kompleks akan diurai menjadi senyawa yang lebih sederhana dan proses ini melepaskan energi. Dua proses yang berlawanan ini tidak dapat dipisahkan, karena dalam proses anabolisme menghasilkan senyawa kompleks yang dapat menjadi senyawa bahan baku untuk dimulainya proses katabolisme. Proses ini mengikuti jalur metabolisme dengan adanya tahapan-tahapan yang melibatkan kerja enzim.

Menyangkut fungsi dan tahap, Sindumarta dan Natalia (1999) menjelaskan bahwa metabolisme berjalan untuk memperoleh energi kimia dari molekul-molekul besar ataupun dari energi surya, mengubah nutrien eksogen ke dalam building block atau prekursor komponen-komponen makromolekul, dan mempersatukan building block menjadi protein, asam nukleat, lipid dan komponen sel lainnya. Dalam perjalanannya, metabolisme melewati tiga tahap, yakni: Tahap I katabolisme, Molekul nutrien besar didegradasi menjadi building block. Polisakarida didegradasi menjadi heksosa. Lipid didegradasi menjadi asam lipid, gliserol dan komponen-komponen lainnya, sedangkan protein diuraikan menjadi asam amino. Tahap II katabolisme, produk-produk berbeda dari tahap I dikumpulkan dan diubah menjadi intermediet-intermediet sederhana dan berjumlah lebih sedikit. Heksosa/pentosa dan gliserol didegradasi melalui intermediet melalui intermediet asam piruvat (3C) menjadi asetil –CoA (2C). asam amino dan asam lipid dipecah menjadi asetil CoA dan beberapa produk lainnya. Akhirnya gugus asetil dari asetil CoA dan produk-produk lain pada tahap II ini disalurkan ke tahap III. Tahap III katabolisme, merupakan tahap akhir katabolisme. Produk yang dihasilkan pada tahap II dioksidasi menjadi air dan karbondioksida. Tahap III dan tahap II anabolisme, molekul-molekul prekursor diregenerasi di tahap III, lalu diubah di tahap II. Contoh biosintesis protein dimulai dari pembentukan asam α-keto yang merupakan prekursor asam amino α yang pada tahap I anabolisme diubah menjadi rantai polipeptida.


Kamis, 09 September 2010

Unhas Kembangkan Kepiting Cangkang Lunak

Laporan Suryana Anas

TRIBUN-TIMUR.COM - Anda suka makan kepiting, tapi terkendala karena kulit atau cangkangnya keras. Kini, Anda dapat memakan kepiting tanpa terkendala karena cangkangnya yang keras. Melalui hasil penelitian Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas Prof Dr Yushinta Fujaya dkk, kepting itu dapat dimakan dengan mudah karena cangkangnya yang lunak. Bahkan cangkang tersebut bisa dimakan bersamaan dengan daging kepiting yang lezat.

Kepiting cangkang lunak hasil karya Unhas tersebut dipamerkan dalam Pamarena Pembangunan Sulsel 2010 yang digelar di CCC, Jl Metro Tanjung Bunga, Makassar, akhir pekan lalu.

Pada hari terakhir pameran tersebut, tim panitia pameran dari Unhas menghadirkan kepiting cangkang lunak beserta ekstrak bayam yang diberi nama Vitomolt yang berfungsi sebagai molting stimulant, atau pelunak cangkang/kulit kepiting. Vitomolt yang merupakan hasil penelitian Prof Dr Yusintha Fujaya MSi dkk.

Kepiting cangkang lunak tersebut diperoleh di stan Unhas secara gratis. ''Karena ini masih dalam tahap sosialisasi dan promo, maka kami memberikan secara cuma-cuma kepada pelaku budi daya kepiting,'' ujar Akbar Marzuki Tahya pelaksana teknis peneliti kepiting cangkang lunak.

Vitomolt ini dikemas dalam botol kecil. Cara penggunanannya, setiap botol vitomolot dapat dicampur dengan air 10mL (mili liter).Selanjutnya campuran cairan tersebut disuntikkan ke pangkal kaki kelima kepiting yang akan dilunakan. Meski kapsitasnya kecil, namun satu botol vitomolot dapat digunakan untuk 100 ekor kepting berbobot sekitar 90 gram/ekor.

Menurut Akbar, meski belum diproduksi secara massal, namun peminat ekstrak bayam ini sudah banyak, termasuk dari Medan dan Malaysia. (*)

sumber: Tribun Timur.com, Rabu, 8 September 2010 | 15:45 WITA

Jumat, 23 April 2010

Gaya Manajemen Nan Elegan dari Apple



iMac, iPod, iTunes, dan iPhone sungguh merupakan deretan karya
teknologi yang amat estetik. Deretan produk elegan dengan sentuhan
seni yang mengesankan. Deretan produk yang barangkali ingin
menggapai dengan sepenuh hati apa itu makna keindahan yang
sempurna. Dan melalui deretan produk inilah, Apple kemudian
menyeruak menjadi pendekar paling tangguh dalam era konvergensi
digital masa depan.
Dalam lima tahun terakhir, Apple memang terus bergerak menggapai
langit prestasi. Setelah produk iPod-nya melambung dan membuat
para petinggi Sony kelabakan, kini Apple hendak menggoyang
kedigdayaan Nokia dengan produknya yang memukau, iPhone.
Sementara jutaan orang setiap hari mengunjungi kios musiknya via
iTunes. Pendeknya, menyaksikan kisah Apple ibarat menikmati jus
apel yang segar dan menyehatkan. Lalu, apa sesungguhnya faktor
kunci dibalik menjulangnya kerajaan Apple?
Penyelidikan terhadap proses bisnis yang dilakoni oleh Apple
membawa kita pada tiga elemen kunci yang mungkin bisa
menjelaskan kejayaan perusahaan dari Cupertino, California ini.
Elemen yang pertama dan mungkin paling vital adalah eksistensi sang
CEO dan juga pendiri, Steve Jobs. Tak pelak, pria yang suka
berpenamilan casual ini merupakan figur kunci dibalik ketangguhan
Apple. Melalui visinya yang tajam dan citarasa yang kuat akan produkproduk
teknologi berestetika, Steve telah menjelmakan dirinya sebagai
jangkar yang amat menentukan ke arah mana bahtera Apple hendak
dilayarkan.
Pertautan Steve Jobs dengan Apple sendiri merupakan sebuah kisah
yang panjang nan berliku. Pria yang drop out saat kuliah di semester
pertama ini mendirikan perusahaan Apple ketika usianya baru masuk
22 tahun (!) dari sebuah garasi mobil di rumah kontrakan. Di tahuntahun
awal berdirinya pada pertengahan tahun 70-an, Apple sempat
mengguncang dunia dengan mengeluarkan produk personal computer
pertama di dunia. Namun seiring berjalannya waktu, nasib Steve Jobs
sendiri justru berakhir tragis : pada tahun 1986 ia justru dipecat dari
Apple. Sejak ia pergi, Apple limbung dan didera kegagalan demi
kegagalan.
Setelah sempat berpetualang dengan mendirikan perusahaan Pixar
(yang memproduksi film animasi sukses seperti Toy Story, Finding
Nemo dan Cars), Steve Jobs melakukan langkah comeback : kembali
direkrut untuk mengomandani Apple. Saat itu, tahun 1997, Apple
tengah berada pada titik nadir, dan banyak orang meramalkan
perusahaan ini sebentar lagi akan masuk liang kubur. Senjakala
kematian mengintai dan mereka tak yakin Steve Jobs mampu
menjelmakan dirinya menjadi sang dewa penyelamat.
Toh sejarah kemudian menjadi saksi : betapa Steve Jobs telah
melakukan proses comeback yang spektakuler. Steve Jobs sendiri
sejatinya merupakan figur yang unik. Brilian, memiliki kepekaan seni
yang mumpuni (ia pernah belajar kaligrafi), namun sekaligus memiliki
sense of strong leadership. Pada sisi lain, Steve adalah pribadi yang
selalu memburu titik kesempurnaan – baik pada aspek desain ataupun
dalam proses manufakturing beragam lini produknya. Begitu ia yakin
dengan visi desain produknya, maka ia akan bekerja mati-matian
bersama para engineernya untuk memastikan agar desain itu benarbenar
dapat diproduksi dengan penuh kesempurnaan. Kisah
penciptaan iPod dan iPhone barangkali tak akan pernah terjadi tanpa
sikap perfeksionis dan sekaligus proses kepemimpinan yang kuat dari
Steve Jobs.
Elemen kedua yang menjadi penentu keberhasilan Apple adalah ini :
sinergi yang sempurna antara beragam tim – baik tim desain, tim
software, dan tim hardware. Semua melakukan kolaborasi secara
paralel dan simultan. Proses penciptaan produk di Apple tidak
dilakukan secara setahap demi setahap, dimana setelah desain selesai
lalu diserahkan ke bagian software, lalu diteruskan lagi ke bagian
hardware. Sebaliknya, dalam prosesnya semua aspek ini dikerjakan
bersama-sama secara simultan. “Essentially it means that products
don’t pass from team to team. It’s simultaneous and organic. Products
get worked on in parallel by all departments at once — design,
hardware, software — in endless rounds of interdisciplinary design
reviews,”demikian tulis majalah Time dalam salah satu liputannya
yang memikat tentang Apple.
Elemen yang terakhir mungkin lebih jarang diketahui orang. Elemen
ini adalah hadirnya sang jenius lain bernama Jonathan Ive yang
menjabat sebagai Chief Design Apple. Jonathan Ive adalah seorang
desainer produk brilian yang telah memiliki peran amat sentral dalam
sejarah kelahiran produk-produk legendaris Apple. Ive-lah yang
menjadi otak dibalik lahirnya produk iMac, iPod dan iPhone. Dengan
kata lain, sosok inilah yang dengan jitu menerjemahkan visi Steve
Jobs menjadi kenyataan melalui rangkaian produk yang elegan dan
penuh nuansa keindahan.
Demikianlah tiga elemen kunci yang kira-kira bisa menjelaskan
tentang melambungnya prestasi Apple. Jika kita telisik, ketiga elemen
ini semuanya bermuara pada people management : elemen yang
pertama tentang leadership yang kuat dan visioner, yang kedua
tentang kekuatan sinergi, dan yang ketiga tentang pengembangan
kompetensi dan keahlian.


Rangkaian produk Apple selama ini memang selalu menebarkan
pesona yang menggetarkan. Namun dibalik itu semua, mereka juga
telah memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana
menjalankan proses people management secara elegan.



Oleh : Yodhia Antariksa, Msc in HR dalam Managing People Strategy

Senin, 22 Maret 2010

langkah maju bagi portunus lunak



Oleh
Akbar Marzuki Tahya


Masih sangat terbatas kajian biologi yang mempelajari kehidupan Rajungan (Portunus pelagicus), apalagi kajian khusus fisiologi hormonal. Sementara, informasi ini sangat dibutuhkan dalam rangka pengembangan teknologi inovatif dalam bidang perikanan. Pengembangan teknologi perikanan ke depan diorientasikan pada pendekatan fisiologis dengan mempelajari kehidupan organisme pada habitat aslinya. Dengan menggunakan pendekatan ini, domestifikasi dapat dilakukan dengan baik dan bijak bagi organisme kultivan. Seperti halnya pola pelepasan ekdisteroid diketahui sangat dinamis tergantung pada fase molting di habitat aslinya. Ekdisteroid yang merupakan hormon molting pada krustase, menjadi salah satu kunci dalam mengungkap proses fisiologi molting pada rajungan.

Rajungan menjadi salah satu komoditas penting yang prospektif dalam dunia perikanan di Indonesia karena tersebar di daerah pesisir kepulauan nusantara. Belakangan ini banyak komoditi yang mulai dilirik untuk dikembangkan melalui kegiatan penelitian yang inovatif, sebut saja teknologi kepiting lunak yang mulai digemari.


Kajian mengenai pola pelepasan ekdisteroid sangat erat kaitannya dengan dinamika hormonal setiap fase pergantian kulit atau lazim disebut molting. Ekdisteroid ini dikenal sebagai hormon molting pada krustase. Ekdisteroid memiliki dinamika pelepasan yang teregulasi pada setiap fase molting. Kajian hormonal ini sangat dibutuhkan untuk menunjang pengembangan teknologi rajungan lunak.

Teknologi kepiting lunak bisa diintroduksi ke rajungan dengan adanya pendekatan fisiologi hormonal, apalagi saat ini telah ditemukannya Vitomolt atau molting stimulant yang dikembangkan oleh Prof. Yushinta Fujaya bersama rekan-rekannya di Crabs Research Station, FIKP Unhas.


Sehingga informasi mengenai kehidupan organisme ini sangat dibutuhkan dalam menunjang teknologi rajungan lunak yang ramah lingkungan.